Review Buku Arah Langkah karya Fiersa besari | Petualangan yang Menggugah

Review Buku Arah Langkah karya Fiersa besari

Persiapkan diri kalian jika ingin membaca kisah 3 pengelana ini, karena seketika akan membuat kita ingin bertualang ketika membacanya, selengkapnya akan saya Review buku Arah Langkah karya Fiersa besari ini. Sebuah perjalanan mengelilingi indonesia ala backpacker, yang mana mereka menamainya backpacker kere. Bukannya hanya sekedar destinasi, tetapi makna dan perjuangan di dalam setiap perjalanannya yang sangat menggugah. Geser bawah kuy !

 

Sinopsis

Bulan april, tahun 2013, berawal dengan niat dan tujuan yang berbeda – salah satunya karena hati yang terluka. Tiga pengelana memulai sebuah perjalanan menyusuri daerah daerah di Indonesia. Lewat cara yang seru tapi menantang, mereka tidak hanya menyaksikan langsung keindahan negeri ini, mereka juga harus menghadapai pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa masing-masing.

Arah Langkah bukan sekedar catatan perjalanan yang melukiskan keindahan alam, budaya, dan manusia lewat teks dan foto. Tetapi juga memberikan cerita lain tentang kondisi negeri yang tidak selalu sebagus seperti di layar televise. Meskipun begitu, semua daerah memang memiliki cerita yang berbeda-beda, namun di dalam perbedaan itu, cinta dan persahabatan selalu bisa ditemukan.

Buku Arah Langkah ini mentok pada halaman 300, tidak terlalu tebal memang. Tapi saya sendiri menyelesaikannya dalam kurun waktu 4 hari, karena agak sibuk dengan beberapa hal. Nyatanya buku ini pertama kali terbit ditahun 2018, sempat tidak sadar karena telah larut dalam cerita, setelah selesai membaca baru dilihat halaman awal perihal deskripsi penerbitan buku. Wah, benar-benar baru rupanya.

Novel tentang perjalanan keliling Indonesia karya Fiersa Besari ini merupakan kali pertama saya membaca karya nya. Ternyata ini merupakan buku ke-4 sang penulis. Lantas saja sangat bisa dinikmati gaya berceritanya. Fiersa Besari merupakan penulis muda, sebelum menyemplung di dunia menulis, dia mengawali karirnya sebagai musisi. Kalian bisa cek di IG dan channel youtubenya, memang sosok muda yang menginspirasi.

“Berkelana itu enggak gila. Yang gila itu kalau diam di rumah padahal hati memanggil kita untuk berkelana”

Gilak, tiga sosok pengelana dalam cerita ini yaitu Bung, Prem dan Baduy. Perjalanan awalnya bermula  dari pulau Jawa melintas ke sumatera, menghabiskan hari dengan mengeksplore daerah yang memang memiliki nilai-nilai budaya yang kuat. Sedikit Hype karena mereka menyempatkan diri ke sumatera barat. Sebelum menuju ke mentawai, mereka menyempatkan pergi ke pantai air manis yang ikonik dengan batu malin kundangnya. Setelah itu ke Bukittinggi dan tidak lupa mengunjungi danau maninjau lengkap dengan poto yang telah di abadikan oleh bung dalam lembaran cerita.

Beberapa poto yang terselip di buku ini menjadi salah satu hal menarik, sang penulis dengan senang hati membagi kenangan-kenangannya ketika berpetualang, cukuplah sebagai bukti dan history. Alasan Bung dan kawan-kawannya menuju ke mentawai sendiri adalah melihat budaya dan melihat dengan sendiri budaya lompat batu Bawomataluo yakni aksi meloncati sebuah penghalang seperti tembok yang cukup tinggi oleh seorang laki-laki, yang nyatanya aksi tersebut telah ada pada gambar uang kertas rupiah lama.

Kalo masalah penokohan menurut pribadi saya, Bung dan Prem cukup berkesan, mereka berdua memiliki keterkaitan yang bisa dikatakan memdalam, karena dari cerita latar belakang mereka yang telah saling mengenal, mereka sahabat. Tidak tahu apakah mereka saling memiliki rasa karena melihat perjalanan yang telah ditempuh dan berbagai pengalaman yang menghampiri. Sedangkan tokoh Baduy sendiri adalah orang asing yang mencoba membaur, mencoba menyelinap untuk satu tujuan yakni keliling Indonesia bersama dua teman barunya tersebut. Ada juga pembahasan latar belakang si Baduy ini, namun nyatanya tidak sedemikian dalam karena hubungan bung dan baduy ditengahi oleh prem. Prem lah yang mencairkan suasana bila ada kekakuan, bukan ketegangan atau prem menjadi jembatan antara bung dan baduy. Juga beberapa hal seperti bung sendiri jarang menghabiskan waktu berduaan dengan baduy, tetapi mereka bertiga sejalan, serangkul dan ya saling melengkapi pastinya. Tak khayal, banyak orang yang mereka temui sehingga terjalinlah tali persaudaraan, pertemanan dan bahkan kekeluargaan.

Sudut pandang cerita ada di tokoh Bung. Dijelaskan disini bahwa sosok Bung bisa berenang tetapi tidak selincah 2 sahabat lainnya, bung juga pernah mendaki, satu atau dua kali barangkali, tetapi prem lah yang memiliki stamina yang sangat luar biasa. Baduy lain lagi.

Alur cerita sangat menarik, ada beberapa hal ketika memasuki mozaik baru, yakni kita akan sedikit flashback nantinya. Kita bakal menyelami kehidupan bung dan apa saja yang telah membentuknya dan membuatnya melakukan perjaalanan yang sedemikian nekat ini. yap, penjelasan terhadap flashback tersebut terasa ringkas dan memiliki porsi yang pas.

Menarik juga menilik karakter mereka dari bagaimana perjalanan yang telah meraka tapaki. Saya tidak akan deskripsikan kemana saja mereka pergi, destinasi mana saja yang menjadi impian mereka atau tempat mana saja yang memiliki keindahan yang surgawi(Karena Kalian harus baca sendiri buku ini). Nyatanya mereka pergi ke tempat yang eksotis dan bukan tempat yang mudah di langkah pastinya. Selain pendiskripsian tempatnya yang bakal membuat kita hype seketika untuk ingin bertravelling, justru perjuangan mereka dalam perjalanan lah yang sangat menarik bagi saya. Tidak hanya itu, mereka juga berinteraksi dan berbaur dengan penduduk setempat yang mereka kunjungi.

Novel ini sifatnya memang bertualang, yang mana tidak sekedar jepret jepret di tempat destinasi setelah itu ngobrol sedikit dan langsung pergi,  bukan. Dijamin beda deh  dengan buku atau novel yang bertemakan traveling yang lainnya.

Hal lain yang sangat saya sukai ialah kendala kendala apa saja mereka dapati dalam menempuh perjalanan, mereka yang menerapkan bagaimana harga transportasi seminimal mungkin. Bagaimana mereka terdampar di pulau karena kapal hanya berlayar sekali dalam seminggu, mencoba mem press harga ongkos transportasi dengan berbagai cara. Menaiki bus jadul yang sesak yang sudah tak layak lagi sebenarnya. Mencari tumpangan dan lain sebagainya.

Harus bacalah bagi kalian yang hobi membaca jangan sampai melewatkan buku petualangan ini, dan juga bagi kalian yang hobi travelling, sebutlah itu sekedar jalan jalan atau yang hobi mendaki juga musti baca. Karena sangat besar pengaruh inspirasi yang diberikan oleh buku ini, apalagi motivasi dan juga menikmati keberagaman berbagai macam daerah pastinya.

Rekomendasi sekali pokoknya, tidak ada batasan umur untuk membaca buku ini. Yap sekian dulu Review Buku Arah Langkah karya Fiersa besari ini, kalian bisa lanjutkan sendiri dengan membaca dan hanyut dalam petualangan Bung bersama temannya tersebut. Selamat menunaikan ibadah membaca.

“Sejauh apa pun jalan yang kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah.”

“Ah, remember this dude, crazy is fun, normal is boring.”

“Hidup ini menyenangkan jika dilihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap.”


Baca juga Review Novel saya yang lainnya yang tak kalah menarik :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *