Review IN THIS CORNER OF THE WORLD | Anime Movie

Review IN THIS CORNER OF THE WORLD

Movie yang lahir dari sutradara Sunao Katabuchi sukses menyabet beberapa penghargaan. Karena unsur cerita dan menghadirkan sudut pandang baru dalam menilik masa masa pelik suasana perang 1945 di jepang.

Meskipun penggambaran visualnya berupa kartun atau anime dalam istilah jepangnya, namun materi dan konsep cerita yang disematkan sangat dewasa. Menikmati visual yang unik memberikan kesan baru dalam penyampaian cerita, ditambah dengan nilai historical pastinya.

Btw, anime ini diadaptasi dari manga nya yang berjudul sama Kono Sekai No Katasumi Ni (In This Corner of The World). Di produksi oleh MAPPA dan rilis pertama kali pada tahun 2016, secar global telah dirilih pada awal 2017.

Sinopsis:

mengisahkan kehidupan seorang gadis bernama Suzu pada kisaran tahun 1930-an sampai 1940-an pada masa Jepang terlibat di Perang Dunia ke-2, dengan fokus khusus pada kejadian di tahun 1944-1945. Suzu terlahir pada sebuah keluarga petani rumput laut di kawasan pantai Eba, di Hiroshima. Hal hal kecil sebagai seorang perempuan mulai ia pelajari seperti memasak, mencuci pakaian dan membersihkan rumah.

Sederhana dan biasa saja memang, namun kesemua proses nantinya bakal ia temukan dan tak bisa di bendung kenyataan yang menghampiri. Seperti memasak dengan bahan bahan yang terbatas, mengakali dengan bahan dan bumbu masak yang serba tidak mencukupi  hingga tak luput jua dengan menjahit baju.

Kecintaannya terhadap melukis menjadikan tokoh suzu lebih menarik dan berbeda. Bagaimana ia melukis pemandangan dan arsitektur kota, membuat suzu menjadi karakter perempuan yang langka dan mempunyai kreativitas yang tinggi. dilihat dari keterkaitannya dengan kehidupan yang keras dan deras

Pada usianya yang ke-18, ia dilamar oleh seorang pemuda yang ia tidak kenal bernama Shusaku, yang datang dari kota Kure, kota pangkalan angkatan laut Jepang di mana ia bekerja sebagai pegawai. Dalam film anime ini kita dapat menyaksikan usaha keras Suzu untuk belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik di tengah-tengah keluarga suaminya di Kure, di sela-sela segala kesulitan karena perang yang berkecamuk, termasuk tragedi yang membuat Suzu kehilangan berbagai hal yang penting baginya.

Suzu bertahan melewati kepahitan hidup dan tetap bisa bersyukur atas hal yang masih dimilikinya di tengah situasi paling kelam. Hampir di sepanjang film, kita nyaris tidak melihat Suzu mengeluhkan  keadaan. Kebahagiaan sederhana yang dirasakan Suzu membuat dia jadi karakter yang sangat berharga.

Nah, itu merupakan gambaran secara garis besar cerita yang sangat bisa dinikmati oleh penonton. Nyatanya, tentang visualisasi sendiri film ini memiliki gambar yang lembut dan pewarnaan yang tidak tajam, penggambaran karakternya pun tidak terlalu berlebihan, sesuai sekali dengan atmosfir film secara keseluruhan.

Hal yang istimewa dari film ini memang dari penceritaan yang sederhana dan humanis. Bisa ditangkap dari bagaimana tokoh-tokoh yang diceritakan bertahan hidup seperti salah satunya bersembunyi di dalam ruang bawah tanah yang telah di persiapkan untuk berlindung ketika terjadi letusan disana sini.

Intinya, baik Suzu dan tokoh lainnya tetap menjalankan hidup, seburuk apa pun situasinya. Mereka semata-mata tentu tidak menerima perang yang terjadi namun lebih hebatnya mereka juga tidak mengeluh.

Kalau untuk alur cerita terasa lambat, namun masih tetap bisa dinikmati. Karena kejadian-kejadian yang ditampilkan bakal saling berkaitan nantinya. Film ini sukses memberikan penggambaran proses menuju kedewasaan yang memang tidak pernah berjalan mulus dan melalui karakter Suzu kita akan diajak untuk menghargai detik demi detik kehidupan, baik itu kebahagian juga kepahitan sekalipun.

Toh sang sutradara Sunao Katabuchi memang mencari berbagai sumber yang akurat untuk membuat scene-scene yang bakal disuguhkan kepada penonton. Apakah kalian semata mata berpikir setiap scene dan background kehidupan yang ditampilkan merupakan imajinasi sang sutradara? Bukan.

Meskipun film ini sifatnya anime dan penggambarannya terlihat receh, sang sutradara telah totalitas dalam mencari sumber. Mewawancarai lebih dari 10 warga local yang telah lanjut usia demi mendapatkan penggambaran yang lebih jelas.

“Gua punya banyak buku dan foto. Gua ketemu sama banyak orang yang masih kanak-kanak pada masa itu (1945)—semua orang dewasa pada masa itu udah meninggal. Mereka punya banyak kisah buat diceritain. Berdasarkan kisah-kisah ini, gua tahu bagaimana ngegambarin area tersebut dan mutusin buat ngelakuinnya,” kata Katabuchi dalam sebuah wawancara, seperti yang dikutip dari Anime News Network.

Wah, ini memang merupakan anime movie yang paling rekomended lah. Bagi kalian yang tidak terlalu menyukai anime tetapi sedikit-sedikit suka menonton, In This Corner Of The World merupakan pilihan yang tepat.

Untuk awal menonton mungkin kita bakal meremehkan dan mengucilkan film ini karena penggambarannya seperti film kartun lama, namun tak pelak ketika menyaksikan berbagai macam konflik yang disuguhkan nantinya. Pemaknaan hidup yang mendalam dapat dipetik ketika benar benar sudah menonton film ini.


Bagi kalian yang ingin mencari review anime movie dan haus akan rekomendasi film apa-apa saja yang ingin di tonton, Rasssian menyiapkan beberapa optional yang sangat keren :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *