Review JALAN BERCABANG DUA DI HUTAN KESUNYIAN Karya Puthut EA

Review JALAN BERCABANG DUA DI HUTAN KESUNYIAN

Buku dengan ilustrasi seni lukis yang menggugah Jalan Bercabang Dua Di Hutan Kesunyian merupakan hasil Karya epic Sang Penulis Puthut EA dan kolaborasinya dengan Bambang Nurdiansyah. Buku ini lantas jadi bahan bacaan yang bijak untuk dimiliki, dan apa yang membuat buku ini harus kamu miliki?

Kita bahas bagaimana muasalnya karya yang sangat langka ini lahir dari buah pikir sang penulis dan ilustratornya. Di terbitkan oleh Shira media, Jalan Bercabang Dua Di Hutan Kesunyian ini rilis pertama kali pada Mei 2019 dengan ketebalan 160 halaman. Hmm, bahan bacaan yang simpel namun penuh dengan aksara yang mendalam. Kira-kira bagaimana Puthut Ea melahirkan karya epic seperti ini?

Buku ini secara keseluruhan memiliki 9 judul cerita didalamnya yang setiap lembar halamannya memiliki lukisan-lukisan yang bertemakan dengan bahan bacaan tersebut dengan menyelipkan tema tumbuh-tumbuhan. Senimannya yakni Bambang Nurdiansyah sengaja mengambil tema tumbuh-tumbuhan karena merasa intens dengan hal tersebut, si doi memang suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan tanaman maupun alam.

Penggalan pertama cerita berjudul DI PELABUHAN, bercerita tentang seorang Aku yang kembali mengenang kepergiannya pertama kali yang dimulai dari sebuah pelabuhan, sebut saja itu sebuah perjalanan mengembara, atau merantau atau sebuah perjalanan untuk menyambung kehidupan yang telah terasa monoton. Menceritakan tentang perjalanan melewati laut, deskripsi lengkap tentang kapal dan suasana alam beserta tujuan hidup.

“Perjalanan selalu menjadi resep mujarab penawar rasa hampa.”

Penggalan cerita kedua yaitu DI SEBUAH KAFE, melanjutkan perjalanan dari cerita pertama tadi. Setelah sampai di sebuah kota, si Aku mengakui hanya dual hal yang dimiliki, dirinya sendiri dan orang-orang yang tidak dikenal. si Aku ini singgah di sebuah kafe dan mendeskripsikan bagaimana suasana didalam kafe tersebut. Tidak ada menu di kafe tersebut, maksudnya hanya ada 1 menu untuk semua pelanggan yang datang yakni setangkup roti tawar, secangkir kopi hitam, sebutir obat penenang dan sejumput kacang.

“Konon, kesunyian dan rasa kecewa hanya bisa ditulis di dinding waktu.”

Penggalan cerita ketiga yaitu DI MUSEUM, kembali lagi melanjutkan perjalanan si Aku yang melangkah ke museum. Bagian cerita disini sedikit terasa absurd.

Saya tidak akan ceritakan keseluruhannya, di dalam buku Jalan Bercabang Dua Di hutan Kesunyian ini memiliki dua cerita secara garis besar yang mana satu cerita memiliki lima judul kecil dan dilanjutkan ke cerita kedua yang memiliki empat judul kecil.

Cerita kedua ini diberi judul Keping A: BERSAMA ANGIN, kembali lagi bersama Aku yang menjelaskan bagaimana angin membawanya ke arah-arah yang tak menentukan. dan akhirnya si Aku terhenti di hutan. Disini penulis mendeskripsikan suasana alam dan menyampaikan bagaimana ketakjubannya terhadap hutan dan alam disekitarnya.

“Bau hutan kembali memanggilku. Panggilan purba. panggilan serupa dengan seorang anak yang lelah menghadapi dunia, dan ingin pulang ke rahim bunda.”

“Hutan adalah tanah suci, tempat para petualang menemui diri sendiri.”

Di Keping B: MENGARUNGI ANGIN, menceritakan bagaimana si Aku ini mengembara dengan angin sebagai tunggangannya. mengarungi tempat-tempat berbau alam, seperti di Rumah tua, di danau, di laut dan berlabuh di tubuhmu, yakni seseorang yang diimpikan oleh si Aku.

“Di tubuhmu, angin mengeringkan luka. Melambaikan rambutmu. Mengistirahatkan lelahmu. Ada rasa tenteram menyelinap pelan. Mengundang kantuk yang lama tak hinggap di matamu.”

Lanjut pada Keping C: DI RAHIM KESUNYIAN, menceritakan secara makna dan alunan aksara yang puitis menjelaskan tentang kesunyian yang menghampiri dari segala sudut kehidupan. Bagi saya selaku pembaca bagian ini adalah bagian yang paling menarik.

“Semua berulang. Tidak ada yang baru. Selalu ada yang tumbuh dan ada yang runtuh. Tapi kita tahu persis, kita membutuhkan semakin banyak halaman kitab. Karena semakin banyak yang kita ingat dan kita catat, semakin banyak bermunculan rahim kesunyian dan kegaduhan. Masing-masing mengerami rahasia dan menetaskan peristiwa.”

Bagian terakhir adalah Keping D: RIWAYAT IBU, wah saya tidak akan menjelaskan bagian ini karena jikalau lah sudah keseluruhannya saya jelaskan tentu bagi kalian yang belum sempat membeli dan membacanya secara lengkap tidak akan berminat betul untuk membeli.

Overall, buku Jalan Bercabang Dua Di Hutan Kesunyian ini harus kalian miliki dan tentu sangat merugi sekali bagi kalian yang sudah tahu Puthut EA dan telah membaca karya-karya beliau sebelumnya.

Secara fisik buku ini dibuat dengan istimewa, berbeda dari buku-buku novel maupun buku puisi pada awamnya. Cover buku depan-belakang tebal jadi rentan untuk berkerut dan bakal membuat keseluruhan isi buku bertahan lama. Ya bentuk fisik buku ini memang benar-benar dibuat spesial untuk pembacanya, tidak sekedar dibaca lalu disimpan. Buku ini sangat bisa dibawa kemana-mana dan dinikmati dimanapun.

Buku ini dibandrol sekitar Rp.99k , Kemahalan ga sih? Menurut saya sih sesuai dengan yang didapat. Mulai dari unsur cerita yang bijak, aksara yang mendalam, sudut pandang kehidupan yang jarang dijamah ditambah ilustrasi yang autentik. Menurut saya Buku ini merupakan sebuah karya yang langka.

Buku ini juga mengingatkan saya kepada karya M.Aan Mansyur yaitu Melihat Api Bekerja. Buku puisi yang selalu saya bawa kemana-mana karena apa yang dibahas memang tentang kehidupan ditambah juga ilustrasinya yang tak kalah lebih keren. Jadi, sekian dulu untuk Review Jalan Bercabang Dua Di Hutan Kesunyian ini , apakah ini layak disebut Review atau tidak saya sendiri masih belajar dalam mendeskripsikan sebuah buku dan terakhir, kalian bisa dapatkan di Mojokstore.


Baca juga Review Novel saya yang lainnya yang tak kalah menarik :

Satu Balasan untuk “Review JALAN BERCABANG DUA DI HUTAN KESUNYIAN Karya Puthut EA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *